RSS

Theori ABC (Contoh Aplikasi dalam perilaku kesehatan)

13 Feb

THEORI ANTESEDEN-BEHAVIOUR-CONSEQUENCE

(ABC THEORI)

OLEH :

Bambang Sutomo

Isnaeni Sudarso

KAJIAN PROMOSI KESEHATAN

DAN SUMBER DAYA MENUSIA KESEHATAN

MAGISTER PROMOSI KESEHATAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2009

BAB I

PENDAHULUAN

BAB II

KAJIAN THEORI

ANTESEDEN-BEHAVIOUR-CONSEQUENCE

A. Anteseden

Anteseden adalah peristiwa lingkungan yang membentuk tahap atau pemicu perilaku (Holland & Skiner, 1961 ; Bandura,1977 ; Miller, 1980).

Melihat batasan tersebut menunjukan bahwa dengan adanya anteseden dapat memicu untuk terjadinya perilaku seseorang, artinya dengan adanya sebuah peristiwa bisa menjadikan seseorang untuk berperilaku.

Misal :

1.      Peristiwa ujian akan memacu mahasiswa untuk belajar.

Ø  Peristiwa ujian       : Anteseden.

Ø  Belajar                   : Perilaku

2.      Seorang ibu tangannya pernah melepuh karena memegang panci panas, maka utuk saat-saat selanjutnya ia berperilaku setiap memegang panci panas selalu menggunakan alas kain.

Ø  Tangannya melepuh                      : anteseden.

Ø  Menggunakan alas kain                 : perilaku

Coba perhatikan kedua contoh diatas, terutama proses terjadinya perilaku.    Pada contoh (1), memperlihatkan bahwa PERISTIWA UJIAN belum terjadi, dan perilaku BELAJAR sengaja dipersiapkan SEBELUMNYA ; sedangkan pada contoh (2) peristiwa TANGAN MELEPUH sudah terjadi, maka karena ibu tersebut pernah mengalami  TANGAN MELEPUH saat memegang panci, maka dia baru berhati-hati dengan selalu MENGGUNAKAN ALAS KAIN.

Kedua contoh tersebut memperlihatkan bahwa perilaku seseorang bisa direncanakan untuk menghadapi sebuah peristiwa, bisa juga sebaliknya perilaku akan muncul kalau sudah terjadi peristiwa. Sehingga kita dapat melihat bahwa proses anteseden dapat dibagi atas 2 (dua) :

1.      Anteseden terencana

2.      Anteseden alamiah (naturally occurings antesedents )

Perilaku yang timbul karena dipicu oleh peristiwa-peristiwa lingkungan yang sudah terjadi.

B. Behaviour

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam frekuensi yang cukup

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam jangka waktu yang mencukupi

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam bentuk yang diharapkan

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam saat yang tepat

•         Perilaku sasaran tidak ada sama sekali

•         Ada perilaku tandingan

Perilaku tandingan adalah sesuatu yang jika dipraktekkan akan mengganggu perilaku yang lain. Perilaku sasaran merupakan perilaku yang kompleks.

•         Praktik-praktik kesehatan yang diharapkan sering bersifat lebih kompleks dibandingkan dengan apa yang sekilas terlihat untuk pertama kali. Dalam situasi semacam ini, komunikator bisa membagi perilaku sasaran ke dalam bagian-bagian yang terpisah, untuk memahami apa yang diminta oleh mereka yang sedang mempraktekkannya serta membantu komunikator agar lebih siap dalam mempelajari perilaku tersebut. Pemahaman akan kompleksitas perilaku membantu komunikator agar dapat dengan tepat memilih pesan-pesan, merencanakan strategi dan menyusun pelatihan.

C. Consequence

1.     Batasan Consequence

Adalah peristiwa lingkungan yang mengikuti sebuah perilaku, yang juga menguatkan, melemahkan atau menghentikan suatu perilaku.

Consequence yang terjadi pada diri seseorang bisa menguatkan perilaku ulang kalau orang tersebut merasa bisa mengambil manfaat dari perilaku yang pernah dilakukan sebelumnya, kemungkinan lain yang bisa menjadikan seseorang mengulang perilaku sebelumnya karena merasa senang dengan apa yang pernah dilakukan.

Apabila perilaku sebelumnya merasa tidak menyenangkan, menakutkan, atau bahkan membuat trauma, bisa jadi akan membuat sesorang malas untuk berperilaku ulang, yang lebih parah lagi dia bahkan akan berhenti sama sekali untuk tidak berperilaku yang menurut dia tidak menyenangkan, atau bisa saja karena ada penilaian tidak bermanfaat.

Keadaan ini berlaku bagi semua perilaku awal baik yang bersifat negatip ataupun yang bersifat positip. Artinya bisa saja seseorang diawalnya berperilaku negatip, tetapi karena mereka merasa ada peristiwa yang tidak menyenangkan atau bahkan merasa tidak bermanfaat membuat seseorang menjadi berhenti untuk tidak berperilaku lagi. Atau sebaliknya sebuah perilaku awal positip karena kemudian dia mendapatkan suatu peristiwa yang menyenangkan kemudian akan memperkuat untuk berperilaku ulang/lanjut lagi.

Contoh Kasus:

a.       Perilaku positip-consequnce menyenangkan yang bisa menguatkan-perilaku baru.

Seorang anak datang memeriksakan ke klinik gigi, dia mendapat perawatan pencabutan gigi tanpa disuntik dan dicabut tidak sakit. Karena dia merasa pada kunjungan awal mendapatkan perawatan kesehatan gigi sebagai sesuatu yang menyenangkan maka dia selalu minta untuk selalu periksa gigi untuk dicabut jika giginya goyah.

Contoh diatas memperlihatkan bahwa  datang memeriksakan ke klinik gigi (perilaku positip), mendapat perawatan tidak sakit (consequence menguatkan), selalu periksa gigi (perilaku lanjut/ulang).

b.      Perilaku positip-consequnce tidak menyenangkan yang bisa melemahkan -perilaku baru :

Seorang pasangan aseptor KB dengan AKDR mengetahui kalu ada peristiwa atau kejadian perdarahan pada aseptor lain, kemudian adanya kejadian tersebut menjadikan pasangan aseptor tadi bimbang apakah ingin dilepas atau terus.

Contoh ini menunjukan bahwa perilaku KB dengan AKDR (perilaku positip) ada peristiwa atau kejadian perdarahan pada aseptor lain (consequence melemahkan) , aseptor bimbang apakah ingin dilepas atau terus (perilaku baru/lanjutan).

c.       Perilaku negatip-consequnce tidak menyenangkan yang bisa menghentikan perilaku lama-dan menguatkan perilaku baru :

Seorang perokok berat mengalami kejadian terkena Ca.Paru, kemudia dia merasa karena perilaku merokok menjadikan dia sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan yaitu terkena Ca. Paru, maka dalam benak dirinya timbul perilaku baru untuk tidak merokok lagi daripada nanti terkena Ca.Paru.

Contoh diatas memperlihatkan bahwa merokok (perilaku negatip) sebagai perilaku awal  dan kemudian berdampak pada kejadian Ca paru (consequence tidak menyenangkan), karena dia merasa perilaku merokok menjadikan atau membawa akibat pada sesuatu yang tidak menyenangkan, kemudian dengan adanya kejadian Ca Paru maka kemudian akan memperkuat untuk timbul perilaku baru yaitu perilaku tidak merokok.

Adanya beberapa kejadian/peristiwa diatas, maka suatu peristiwa bisa saja dapat memperkuat suatu perilaku. Peristiwa atau kejadian ini bisa bersifat sebagai perilaku positip yang menyenangkan, kemudian akan memperkuat timbulnya perilaku psotip baru. Atau adanya perilaku negatip tetapi kemudian tidak menyenangkan bagi seseorang kemudian adanya perilaku negatip dan didukung adanya peristiwa tidak menyenangkan menjadikan memperkuat timbul perilaku baru. Suatu keadaan peristiwa yang dapat memperkuat perilaku disebut reinforcement, sedangkan suatu peristiwa negatip yang akan menekan atau melemahkan perilaku disebut sebagai hukuman (punishmentt).

Biasanya orang cenderung untuk mengulang suatu perilaku yang menghasilkan suatu yang positif dan menghindari perilaku yang menghasilkan suatu yang negatif.  Oleh karena itu dikenal adanya dua bentuk reinforcement dan satu punishmentt:

a.    Reinforcement positif

Peristiwa menyenangkan dan diinginkan, peristiwa ramah, yang mengikuti sebuah perilaku.

b.   Reinforcement negatif

Peristiwa atau persepsi dari suatu peristiwa yang tidak menyenangkan dan tidak diinginkan, tetapi juga memperkuat perilaku, karena seseorang cenderung mengulangi sebuah perilaku yang dapat menghentikan peristiwa yang tidak menyenangkan.

c.    Hukuman (punishmentt).

Suatu konsekuens negatif yang menekan atau melemahkan perilaku. Suatu hukuman akan selalu dianggap orang sebagai sesuatu peristiwa yang tidak menyenangkan, tetapi hukuman yang diberikan sebaiknya bersifat positip dan membangun, dengan harapan apabila seseorang awalnya berperilaku negatip kemudian ada peristiwa yang bersifat punishment, dengan harapan punishment tadi bisa menekan atau bahkan melemahkan sesuatu. Untuk itu hindari pemberian punishment untuk hal-hal yang berhubungan dengan perilaku yang sudah positip, punishment sebaiknya hanya diberikan pada perilaku yang masih negatip.

Contoh :

Seorang pelajar sering merokok dilingkungan sekolah, kemudian sama gurunya dihukum untuk tidak boleh mengikuti pelajaran. Karena kejadian dihukum tersebut maka pelajar tersebut berusaha untuk tidak merokok saat di sekolah.

Kejadian tidak boleh mengikuti pelajaran (punishment), akan melemahkan perilaku dia utuk tidak merokok.

2.     Ciri-Ciri Konsekuen

Ø  Suatu konsekuens yang segera mengikuti suatu perilaku adalah jauh lebih kuat mempengaruhi perilaku daripada konsekuens timbul setelah satu masa penundaan.

Ø  Makin menonjol, relevan, penting atau bermakna suatu konsekuens bagi individu, maka makin berdayaguna konsekuens itu terhadap individu.

Ø  Sebuah konsekuens yang lebih konkrit lebih berdaya guna dibandingkan dengan konsekuens yang abstrak.

Sekali sebuah perilaku berhasil dipelajari, maka konsekuens yang menyenangkan tidak perlu mengikuti setiap kejadian untuk memelihara perilaku dari perilaku untuk mempertahankannya tersebut tidak perlu selalu ada saat perilaku.

3.     Kekuatan Konsekuens

Konsekuens mengerahkan lebih banyak pengaruh terhadap kelangsungan pelaksanaan perilaku daripada pengaruh yang diberikan oleh anteseden (Miller, 1980).

Dengan demikian consequence pada diri seseorang relatip akan lebih berpengaruh untuk terjadinya perilaku baru jika dibandingkan dengan anteseden.

RANTAI PERUBAHAN

DARI ANTESEDEN-BEHAVIOUR-CONSEQUENS

Keterangan :

A1 : sebagai anteseden awal

B1 : sebagai BEHAVIOUR awal

C1/A2 : sebagai conseguens awal, sekaligus sebagai anteseden ulang

B2 : sebagai BEHAVIOUR ulang

C2 : sebagai conseguence ulang.

BAB II

APLIKASI THEORI

ANTESEDEN-BEHAVIOUR-CONSEQUENCE

BAGI TENAGA PROMOSI KESEHATAN

A. Anteseden.

Anteseden adalah peristiwa lingkungan yang membentuk tahap atau pemicu perilaku. Adanya anteseden dapat memicu untuk terjadinya perilaku seseorang, artinya dengan adanya sebuah peristiwa bisa menjadikan seseorang untuk berperilaku.

Sebagai tenaga kesehatan khususnya ahli promosi kesehatan sebaiknya bisa lebih memperhatikan aspek ini dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tenaga kesehatan diharapkan bisa peka dalam melihat berbagai fenomena-fenomena kejadian alam untuk bisa dijadikan sebagai anteseden, dan setelah menjadikan peristiwa tersebut sebagi anteseden dapat dijadikan sebagi bahan atau informasi yang bisa disebarluaskan dimasyarakat. Sehingga masyarakat tidak perlu sampai mengalami sendiri kejadian-kejadian yang merugikan, karena sudah didapatkan dari pengalaman orang lain sebagai sesuatu pelajaran yang paling berharga.

Sebagai contoh, adanya kasus sakit DHF (demam berdarah) pada suatu tempat dapat dijadikan sebagai anteseden. Tugas kita sebagi tenaga kesehatan adalah memperhatikan fenomena kejadian tersebut, bagaimana pola penyebaran penyakit, pola penyebaran dan perkembangan vektor, siapa saja sasaran rentan, yang kemudian semua ini dapat dijadikan sebagai beberapa teknik pencegahan yang hasil rumusan pencegahannya dapat disebarluaskan kepada masyarakat umum.

B. Behaviour

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam frekuensi yang cukup

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam jangka waktu yang mencukupi

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam bentuk yang diharapkan

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam saat yang tepat

•         Perilaku sasaran tidak ada sama sekali

•         Ada perilaku tandingan

Perilaku tandingan adalah sesuatu yang jika dipraktekkan akan mengganggu perilaku yang lain. Perilaku sasaran merupakan perilaku yang kompleks.

•         Praktik-praktik kesehatan yang diharapkan sering bersifat lebih kompleks dibandingkan dengan apa yang sekilas terlihat untuk pertama kali. Dalam situasi semacam ini, komunikator bisa membagi perilaku sasaran ke dalam bagian-bagian yang terpisah, untuk memahami apa yang diminta oleh mereka yang sedang mempraktekkannya serta membantu komunikator agar lebih siap dalam mempelajari perilaku tersebut. Pemahaman akan kompleksitas perilaku membantu komunikator agar dapat dengan tepat memilih pesan-pesan, merencanakan strategi dan menyusun pelatihan.

C. Consequence

Peristiwa lingkungan yang mengikuti sebuah perilaku, yang juga menguatkan, melemahkan atau menghentikan suatu perilaku.

Consequence yang terjadi atau dialami seseorang adakalanya bisa menguatkan seseorang untuk berperilaku baru, peran tenaga kesehatan disini diharapkan sebagai motivator yang dapat menjadikan orang tersebut berperilaku tetap hidup sehat. Sehingga suatu consequence yang sudah menguatkan pada diri seseorang, kalu ada motivasi makan akan segera merangsang seseorang tersebut untuk segera berperilaku baru.

Tahapan paling rentan yang bisa dimanfaatkan tenaga kesehatan adalah pada kondisi konsequens yang sekedar melemahkan, atau bahkan menghentikan. Peran tenaga kesehatan disini sangat diharapkan segera bereaksi secepat mungkin, karena pada kondisi ini seseorang masih bimbang apakah akan mengulang perilaku sebelumnya yang masih negatip atau bisa saja dia menghentikan perilaku yang sudah positip tetapi karena merasa ada konsekuens negatip. Untuk itu tenaga kesehatan diharapkan bisa segera menanamkan nilai-nilai agar masyarakat segera menghentikan perilaku negatip, ataupun bisa mengingatkan perilaku yang sudah positip tetapi ada peristiwa yang tidak menyenangkan sehingga dia pikirannya goyah, untuk itu tenaga kesehatan tetap menamkan nilai kebenaran sehingga masyarakat bisa bertahan dan menjalankan perilaku sehat.

Tenaga kesehatan yang sering bertemu dan berhubungan langsung dengan masyarakat, adakalanya juga bisa berperan dalam terbentuknya consequns seseorang, oleh karena itu kita juga harus hati-hati dalam memberi perlakukan kepada masyarakat. Karena sesuatu yang menurut masyarakat menyenangkan akan menjadikan mereka untuk tetap tertarik untuk menjalankan perilaku tersebut, tetapi  sebaliknya apabila apa yang dilakukan tenaga kesehatan dinilai tidak menyenagkan maka akan menjadikan seseorang untuk tidak mau menjalankan perilaku positip selanjutnya.

Sebagai tenaga kesehatan juga harus memahami adanya reinforcement, dan punishment. Tenaga kesehatan diharapkan bisa menunjukan bahwa apa yang mereka dapatkan sebagai Reinforcement positif , untuk dapat dijadikan sebagai pelajaran untuk bisa menjalankan perilaku positip selanjutnya.

Dalam hal Reinforcement negatif, tenaga  kesehatan juga harus bisa menunjukan kepada masyarakat bahwa apa yang telah dijalankan dan dinilai tidak menyenangkan bisa meluruskan bahwa sesuatu yang negatip dan tidak menyenangkan sebaiknya segera dihentikan, tetapi segala sesuatu yang sudah positip sebaiknya bisa tetap dipertahankan.

Kita juga harus hati-hati dalam memberikan punishmentt kepada masyarakat. Jangan sampai  punishmentt yang kita berikan salah sasaran dan salah tempat.

Untuk lebih membuat program kesehatan lebih berhasil sebaiknya kita memperhatikan ciri-ciri spesifik dari Konsekuen. Sebaiknya apabila didapatkan ada suatu konsekuens, maka tenaga kesehatan harus jeli dan respon terhadap peristiwa ini dan segera memberikan motivator kepada masyarakat untuk segera mengubah perilaku mumpung masih hangat, karena kalau kejadiannya sudah lama dampak untuk tertanamnya menjadi perilaku baru akan menjadi lemah.

Selain itu apabila kita   atau meberi contoh sebuah konsekuens, sebaiknya yang lebih konkrit atau nyata.  Karena suatu konsequns yang lebih konkrit akan mudah dipelajari.

RANTAI PERUBAHAN

DARI ANTESEDEN-BEHAVIOUR-CONSEQUENS

THEORI ANTESEDEN-BEHAVIOUR-CONSEQUENCE

(ABC THEORI)

OLEH :

Bambang Sutomo

Isnaeni Sudarso

KAJIAN PROMOSI KESEHATAN

DAN SUMBER DAYA MENUSIA KESEHATAN

MAGISTER PROMOSI KESEHATAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2009

BAB I

PENDAHULUAN

BAB II

KAJIAN THEORI

ANTESEDEN-BEHAVIOUR-CONSEQUENCE

A. Anteseden

Anteseden adalah peristiwa lingkungan yang membentuk tahap atau pemicu perilaku (Holland & Skiner, 1961 ; Bandura,1977 ; Miller, 1980).

Melihat batasan tersebut menunjukan bahwa dengan adanya anteseden dapat memicu untuk terjadinya perilaku seseorang, artinya dengan adanya sebuah peristiwa bisa menjadikan seseorang untuk berperilaku.

Misal :

1.      Peristiwa ujian akan memacu mahasiswa untuk belajar.

Ø  Peristiwa ujian       : Anteseden.

Ø  Belajar                   : Perilaku

2.      Seorang ibu tangannya pernah melepuh karena memegang panci panas, maka utuk saat-saat selanjutnya ia berperilaku setiap memegang panci panas selalu menggunakan alas kain.

Ø  Tangannya melepuh                      : anteseden.

Ø  Menggunakan alas kain                 : perilaku

Coba perhatikan kedua contoh diatas, terutama proses terjadinya perilaku.    Pada contoh (1), memperlihatkan bahwa PERISTIWA UJIAN belum terjadi, dan perilaku BELAJAR sengaja dipersiapkan SEBELUMNYA ; sedangkan pada contoh (2) peristiwa TANGAN MELEPUH sudah terjadi, maka karena ibu tersebut pernah mengalami  TANGAN MELEPUH saat memegang panci, maka dia baru berhati-hati dengan selalu MENGGUNAKAN ALAS KAIN.

Kedua contoh tersebut memperlihatkan bahwa perilaku seseorang bisa direncanakan untuk menghadapi sebuah peristiwa, bisa juga sebaliknya perilaku akan muncul kalau sudah terjadi peristiwa. Sehingga kita dapat melihat bahwa proses anteseden dapat dibagi atas 2 (dua) :

1.      Anteseden terencana

2.      Anteseden alamiah (naturally occurings antesedents )

Perilaku yang timbul karena dipicu oleh peristiwa-peristiwa lingkungan yang sudah terjadi.

B. Behaviour

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam frekuensi yang cukup

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam jangka waktu yang mencukupi

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam bentuk yang diharapkan

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam saat yang tepat

•         Perilaku sasaran tidak ada sama sekali

•         Ada perilaku tandingan

Perilaku tandingan adalah sesuatu yang jika dipraktekkan akan mengganggu perilaku yang lain. Perilaku sasaran merupakan perilaku yang kompleks.

•         Praktik-praktik kesehatan yang diharapkan sering bersifat lebih kompleks dibandingkan dengan apa yang sekilas terlihat untuk pertama kali. Dalam situasi semacam ini, komunikator bisa membagi perilaku sasaran ke dalam bagian-bagian yang terpisah, untuk memahami apa yang diminta oleh mereka yang sedang mempraktekkannya serta membantu komunikator agar lebih siap dalam mempelajari perilaku tersebut. Pemahaman akan kompleksitas perilaku membantu komunikator agar dapat dengan tepat memilih pesan-pesan, merencanakan strategi dan menyusun pelatihan.

C. Consequence

1.     Batasan Consequence

Adalah peristiwa lingkungan yang mengikuti sebuah perilaku, yang juga menguatkan, melemahkan atau menghentikan suatu perilaku.

Consequence yang terjadi pada diri seseorang bisa menguatkan perilaku ulang kalau orang tersebut merasa bisa mengambil manfaat dari perilaku yang pernah dilakukan sebelumnya, kemungkinan lain yang bisa menjadikan seseorang mengulang perilaku sebelumnya karena merasa senang dengan apa yang pernah dilakukan.

Apabila perilaku sebelumnya merasa tidak menyenangkan, menakutkan, atau bahkan membuat trauma, bisa jadi akan membuat sesorang malas untuk berperilaku ulang, yang lebih parah lagi dia bahkan akan berhenti sama sekali untuk tidak berperilaku yang menurut dia tidak menyenangkan, atau bisa saja karena ada penilaian tidak bermanfaat.

Keadaan ini berlaku bagi semua perilaku awal baik yang bersifat negatip ataupun yang bersifat positip. Artinya bisa saja seseorang diawalnya berperilaku negatip, tetapi karena mereka merasa ada peristiwa yang tidak menyenangkan atau bahkan merasa tidak bermanfaat membuat seseorang menjadi berhenti untuk tidak berperilaku lagi. Atau sebaliknya sebuah perilaku awal positip karena kemudian dia mendapatkan suatu peristiwa yang menyenangkan kemudian akan memperkuat untuk berperilaku ulang/lanjut lagi.

Contoh Kasus:

a.       Perilaku positip-consequnce menyenangkan yang bisa menguatkan-perilaku baru.

Seorang anak datang memeriksakan ke klinik gigi, dia mendapat perawatan pencabutan gigi tanpa disuntik dan dicabut tidak sakit. Karena dia merasa pada kunjungan awal mendapatkan perawatan kesehatan gigi sebagai sesuatu yang menyenangkan maka dia selalu minta untuk selalu periksa gigi untuk dicabut jika giginya goyah.

Contoh diatas memperlihatkan bahwa  datang memeriksakan ke klinik gigi (perilaku positip), mendapat perawatan tidak sakit (consequence menguatkan), selalu periksa gigi (perilaku lanjut/ulang).

b.      Perilaku positip-consequnce tidak menyenangkan yang bisa melemahkan -perilaku baru :

Seorang pasangan aseptor KB dengan AKDR mengetahui kalu ada peristiwa atau kejadian perdarahan pada aseptor lain, kemudian adanya kejadian tersebut menjadikan pasangan aseptor tadi bimbang apakah ingin dilepas atau terus.

Contoh ini menunjukan bahwa perilaku KB dengan AKDR (perilaku positip) ada peristiwa atau kejadian perdarahan pada aseptor lain (consequence melemahkan) , aseptor bimbang apakah ingin dilepas atau terus (perilaku baru/lanjutan).

c.       Perilaku negatip-consequnce tidak menyenangkan yang bisa menghentikan perilaku lama-dan menguatkan perilaku baru :

Seorang perokok berat mengalami kejadian terkena Ca.Paru, kemudia dia merasa karena perilaku merokok menjadikan dia sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan yaitu terkena Ca. Paru, maka dalam benak dirinya timbul perilaku baru untuk tidak merokok lagi daripada nanti terkena Ca.Paru.

Contoh diatas memperlihatkan bahwa merokok (perilaku negatip) sebagai perilaku awal  dan kemudian berdampak pada kejadian Ca paru (consequence tidak menyenangkan), karena dia merasa perilaku merokok menjadikan atau membawa akibat pada sesuatu yang tidak menyenangkan, kemudian dengan adanya kejadian Ca Paru maka kemudian akan memperkuat untuk timbul perilaku baru yaitu perilaku tidak merokok.

Adanya beberapa kejadian/peristiwa diatas, maka suatu peristiwa bisa saja dapat memperkuat suatu perilaku. Peristiwa atau kejadian ini bisa bersifat sebagai perilaku positip yang menyenangkan, kemudian akan memperkuat timbulnya perilaku psotip baru. Atau adanya perilaku negatip tetapi kemudian tidak menyenangkan bagi seseorang kemudian adanya perilaku negatip dan didukung adanya peristiwa tidak menyenangkan menjadikan memperkuat timbul perilaku baru. Suatu keadaan peristiwa yang dapat memperkuat perilaku disebut reinforcement, sedangkan suatu peristiwa negatip yang akan menekan atau melemahkan perilaku disebut sebagai hukuman (punishmentt).

Biasanya orang cenderung untuk mengulang suatu perilaku yang menghasilkan suatu yang positif dan menghindari perilaku yang menghasilkan suatu yang negatif.  Oleh karena itu dikenal adanya dua bentuk reinforcement dan satu punishmentt:

a.    Reinforcement positif

Peristiwa menyenangkan dan diinginkan, peristiwa ramah, yang mengikuti sebuah perilaku.

b.   Reinforcement negatif

Peristiwa atau persepsi dari suatu peristiwa yang tidak menyenangkan dan tidak diinginkan, tetapi juga memperkuat perilaku, karena seseorang cenderung mengulangi sebuah perilaku yang dapat menghentikan peristiwa yang tidak menyenangkan.

c.    Hukuman (punishmentt).

Suatu konsekuens negatif yang menekan atau melemahkan perilaku. Suatu hukuman akan selalu dianggap orang sebagai sesuatu peristiwa yang tidak menyenangkan, tetapi hukuman yang diberikan sebaiknya bersifat positip dan membangun, dengan harapan apabila seseorang awalnya berperilaku negatip kemudian ada peristiwa yang bersifat punishment, dengan harapan punishment tadi bisa menekan atau bahkan melemahkan sesuatu. Untuk itu hindari pemberian punishment untuk hal-hal yang berhubungan dengan perilaku yang sudah positip, punishment sebaiknya hanya diberikan pada perilaku yang masih negatip.

Contoh :

Seorang pelajar sering merokok dilingkungan sekolah, kemudian sama gurunya dihukum untuk tidak boleh mengikuti pelajaran. Karena kejadian dihukum tersebut maka pelajar tersebut berusaha untuk tidak merokok saat di sekolah.

Kejadian tidak boleh mengikuti pelajaran (punishment), akan melemahkan perilaku dia utuk tidak merokok.

2.     Ciri-Ciri Konsekuen

Ø  Suatu konsekuens yang segera mengikuti suatu perilaku adalah jauh lebih kuat mempengaruhi perilaku daripada konsekuens timbul setelah satu masa penundaan.

Ø  Makin menonjol, relevan, penting atau bermakna suatu konsekuens bagi individu, maka makin berdayaguna konsekuens itu terhadap individu.

Ø  Sebuah konsekuens yang lebih konkrit lebih berdaya guna dibandingkan dengan konsekuens yang abstrak.

Sekali sebuah perilaku berhasil dipelajari, maka konsekuens yang menyenangkan tidak perlu mengikuti setiap kejadian untuk memelihara perilaku dari perilaku untuk mempertahankannya tersebut tidak perlu selalu ada saat perilaku.

3.     Kekuatan Konsekuens

Konsekuens mengerahkan lebih banyak pengaruh terhadap kelangsungan pelaksanaan perilaku daripada pengaruh yang diberikan oleh anteseden (Miller, 1980).

Dengan demikian consequence pada diri seseorang relatip akan lebih berpengaruh untuk terjadinya perilaku baru jika dibandingkan dengan anteseden.

RANTAI PERUBAHAN

DARI ANTESEDEN-BEHAVIOUR-CONSEQUENS

Keterangan :

A1 : sebagai anteseden awal

B1 : sebagai BEHAVIOUR awal

C1/A2 : sebagai conseguens awal, sekaligus sebagai anteseden ulang

B2 : sebagai BEHAVIOUR ulang

C2 : sebagai conseguence ulang.

BAB II

APLIKASI THEORI

ANTESEDEN-BEHAVIOUR-CONSEQUENCE

BAGI TENAGA PROMOSI KESEHATAN

A. Anteseden.

Anteseden adalah peristiwa lingkungan yang membentuk tahap atau pemicu perilaku. Adanya anteseden dapat memicu untuk terjadinya perilaku seseorang, artinya dengan adanya sebuah peristiwa bisa menjadikan seseorang untuk berperilaku.

Sebagai tenaga kesehatan khususnya ahli promosi kesehatan sebaiknya bisa lebih memperhatikan aspek ini dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tenaga kesehatan diharapkan bisa peka dalam melihat berbagai fenomena-fenomena kejadian alam untuk bisa dijadikan sebagai anteseden, dan setelah menjadikan peristiwa tersebut sebagi anteseden dapat dijadikan sebagi bahan atau informasi yang bisa disebarluaskan dimasyarakat. Sehingga masyarakat tidak perlu sampai mengalami sendiri kejadian-kejadian yang merugikan, karena sudah didapatkan dari pengalaman orang lain sebagai sesuatu pelajaran yang paling berharga.

Sebagai contoh, adanya kasus sakit DHF (demam berdarah) pada suatu tempat dapat dijadikan sebagai anteseden. Tugas kita sebagi tenaga kesehatan adalah memperhatikan fenomena kejadian tersebut, bagaimana pola penyebaran penyakit, pola penyebaran dan perkembangan vektor, siapa saja sasaran rentan, yang kemudian semua ini dapat dijadikan sebagai beberapa teknik pencegahan yang hasil rumusan pencegahannya dapat disebarluaskan kepada masyarakat umum.

B. Behaviour

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam frekuensi yang cukup

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam jangka waktu yang mencukupi

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam bentuk yang diharapkan

•         Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam saat yang tepat

•         Perilaku sasaran tidak ada sama sekali

•         Ada perilaku tandingan

Perilaku tandingan adalah sesuatu yang jika dipraktekkan akan mengganggu perilaku yang lain. Perilaku sasaran merupakan perilaku yang kompleks.

•         Praktik-praktik kesehatan yang diharapkan sering bersifat lebih kompleks dibandingkan dengan apa yang sekilas terlihat untuk pertama kali. Dalam situasi semacam ini, komunikator bisa membagi perilaku sasaran ke dalam bagian-bagian yang terpisah, untuk memahami apa yang diminta oleh mereka yang sedang mempraktekkannya serta membantu komunikator agar lebih siap dalam mempelajari perilaku tersebut. Pemahaman akan kompleksitas perilaku membantu komunikator agar dapat dengan tepat memilih pesan-pesan, merencanakan strategi dan menyusun pelatihan.

C. Consequence

Peristiwa lingkungan yang mengikuti sebuah perilaku, yang juga menguatkan, melemahkan atau menghentikan suatu perilaku.

Consequence yang terjadi atau dialami seseorang adakalanya bisa menguatkan seseorang untuk berperilaku baru, peran tenaga kesehatan disini diharapkan sebagai motivator yang dapat menjadikan orang tersebut berperilaku tetap hidup sehat. Sehingga suatu consequence yang sudah menguatkan pada diri seseorang, kalu ada motivasi makan akan segera merangsang seseorang tersebut untuk segera berperilaku baru.

Tahapan paling rentan yang bisa dimanfaatkan tenaga kesehatan adalah pada kondisi konsequens yang sekedar melemahkan, atau bahkan menghentikan. Peran tenaga kesehatan disini sangat diharapkan segera bereaksi secepat mungkin, karena pada kondisi ini seseorang masih bimbang apakah akan mengulang perilaku sebelumnya yang masih negatip atau bisa saja dia menghentikan perilaku yang sudah positip tetapi karena merasa ada konsekuens negatip. Untuk itu tenaga kesehatan diharapkan bisa segera menanamkan nilai-nilai agar masyarakat segera menghentikan perilaku negatip, ataupun bisa mengingatkan perilaku yang sudah positip tetapi ada peristiwa yang tidak menyenangkan sehingga dia pikirannya goyah, untuk itu tenaga kesehatan tetap menamkan nilai kebenaran sehingga masyarakat bisa bertahan dan menjalankan perilaku sehat.

Tenaga kesehatan yang sering bertemu dan berhubungan langsung dengan masyarakat, adakalanya juga bisa berperan dalam terbentuknya consequns seseorang, oleh karena itu kita juga harus hati-hati dalam memberi perlakukan kepada masyarakat. Karena sesuatu yang menurut masyarakat menyenangkan akan menjadikan mereka untuk tetap tertarik untuk menjalankan perilaku tersebut, tetapi  sebaliknya apabila apa yang dilakukan tenaga kesehatan dinilai tidak menyenagkan maka akan menjadikan seseorang untuk tidak mau menjalankan perilaku positip selanjutnya.

Sebagai tenaga kesehatan juga harus memahami adanya reinforcement, dan punishment. Tenaga kesehatan diharapkan bisa menunjukan bahwa apa yang mereka dapatkan sebagai Reinforcement positif , untuk dapat dijadikan sebagai pelajaran untuk bisa menjalankan perilaku positip selanjutnya.

Dalam hal Reinforcement negatif, tenaga  kesehatan juga harus bisa menunjukan kepada masyarakat bahwa apa yang telah dijalankan dan dinilai tidak menyenangkan bisa meluruskan bahwa sesuatu yang negatip dan tidak menyenangkan sebaiknya segera dihentikan, tetapi segala sesuatu yang sudah positip sebaiknya bisa tetap dipertahankan.

Kita juga harus hati-hati dalam memberikan punishmentt kepada masyarakat. Jangan sampai  punishmentt yang kita berikan salah sasaran dan salah tempat.

Untuk lebih membuat program kesehatan lebih berhasil sebaiknya kita memperhatikan ciri-ciri spesifik dari Konsekuen. Sebaiknya apabila didapatkan ada suatu konsekuens, maka tenaga kesehatan harus jeli dan respon terhadap peristiwa ini dan segera memberikan motivator kepada masyarakat untuk segera mengubah perilaku mumpung masih hangat, karena kalau kejadiannya sudah lama dampak untuk tertanamnya menjadi perilaku baru akan menjadi lemah.

Selain itu apabila kita   atau meberi contoh sebuah konsekuens, sebaiknya yang lebih konkrit atau nyata.  Karena suatu konsequns yang lebih konkrit akan mudah dipelajari.

RANTAI PERUBAHAN

DARI ANTESEDEN-BEHAVIOUR-CONSEQUENS

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 13, 2011 in Tenaga Kesehatan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: