RSS
Sampingan
23 Feb

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 028/MENKES/PER/I/2011
TENTANG
KLINIK
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang   : a. bahwa perkembangan penyelenggaraan fasilitas
pelayanan kesehatan semakin kompleks baik dari segi
jumlah, jenis maupun bentuk pelayanannya;
b. bahwa klinik sebagai salah satu bentuk fasilitas
pelayanan kesehatan dibutuhkan untuk
terselenggaranya pelayanan kesehatan yang mudah
diakses, terjangkau dan bermutu dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat;
c. bahwa Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
920/Menkes/Per/XII/ 1986 tentang Upaya Pelayanan
Kesehatan Swasta di Bidang Medik tidak sesuai lagi
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran serta otonomi daerah;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c, perlu
menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang
Klinik;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4431);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana
telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undangwww.
djpp.depkumham.go.id
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4844);
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5038);
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5063);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3637);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 8737);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 124, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5044);
8. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
364/Menkes/SK/III/2003 tentang Laboratorium
Kesehatan;
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
512/Menkes/Per/X/2007 Tentang Izin Praktik Dan
Pelaksanaan Praktik Kedokteran;
10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis;
11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan
Kedokteran;
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
657/Menkes/Per/VIII/2009 tentang Pengiriman dan
Penggunaan Spesimen Klinik, Materi Biologik dan
Muatan Informasinya;
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
411/Menkes/Per/III/2010 tentang Laboratorium Klinik;
http://www.djpp.depkumham.go.id
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Kesehatan
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG KLINIK.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan medis
dasar dan/atau spesialistik, diselenggarakan oleh lebih dari satu jenis
tenaga kesehatan dan dipimpin oleh seorang tenaga medis.
2. Tenaga medis adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi atau dokter gigi
spesialis.
3. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
4. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kesehatan.
BAB II
JENIS
Pasal 2
(1) Berdasarkan jenis pelayanannya, klinik dibagi menjadi Klinik Pratama
dan Klinik Utama.
(2) Klinik Pratama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan klinik
yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar.
(3) Klinik Utama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan klinik
yang menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik atau pelayanan
medik dasar dan spesialistik.
(4) Klinik Pratama atau Klinik Utama sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dan ayat (3) dapat mengkhususkan pelayanan pada satu bidang
tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ atau jenis
penyakit tertentu.
http://www.djpp.depkumham.go.id
(5) Jenis Klinik Pratama atau Klinik Utama sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) serta pedoman penyelenggaraannya ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 3
Klinik dapat diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah atau
masyarakat.
Pasal 4
(1) Klinik menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif.
(2) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan dalam bentuk rawat jalan, one day care, rawat inap
dan/atau home care.
(3) Klinik yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan 24 (dua puluh
empat) jam harus menyediakan dokter serta tenaga kesehatan lain
sesuai kebutuhan yang setiap saat berada di tempat.
Pasal 5
(1) Kepemilikan Klinik Pratama yang menyelenggarakan rawat jalan dapat
secara perorangan atau berbentuk badan usaha.
(2) Kepemilikan Klinik Pratama yang menyelenggarakan rawat inap dan
Klinik Utama harus berbentuk badan usaha.
BAB III
PERSYARATAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 6
Klinik harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan dan ruangan,
prasarana, peralatan, dan ketenagaan.
Bagian Kedua
Lokasi
Pasal 7
(1) Lokasi pendirian klinik harus sesuai dengan tata ruang daerah masingmasing.
http://www.djpp.depkumham.go.id
(2) Pemerintah daerah kabupaten/kota mengatur persebaran klinik yang
diselenggarakan masyarakat di wilayahnya dengan memperhatikan
kebutuhan pelayanan berdasarkan rasio jumlah penduduk.
(3) Ketentuan mengenai lokasi dan persebaran klinik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku untuk klinik
perusahaan atau klinik instansi pemerintah tertentu yang hanya
melayani karyawan perusahaan atau pegawai instansi pemerintah
tersebut.
Bagian Ketiga
Bangunan dan Ruangan
Pasal 8
(1) Klinik diselenggarakan pada bangunan yang permanen dan tidak
bergabung dengan tempat tinggal atau unit kerja lainnya.
(2) Bangunan klinik harus memenuhi persyaratan lingkungan sehat
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Bangunan klinik harus memperhatikan fungsi, keamanan,
kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta
perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk
penyandang cacat, anak-anak dan orang usia lanjut.
Pasal 9
Bangunan klinik paling sedikit terdiri atas:
a. ruang pendaftaran/ruang tunggu;
b. ruang konsultasi dokter;
c. ruang administrasi;
d. ruang tindakan;
e. ruang farmasi;
f. kamar mandi/wc;
g. ruangan lainnya sesuai kebutuhan pelayanan.
Bagian Keempat
Prasarana
Pasal 10
(1) Prasarana klinik meliputi:
a. instalasi air;
b. instalasi listrik;
c. instalasi sirkulasi udara;
d. sarana pengelolaan limbah;
e. pencegahan dan penanggulangan kebakaran;
http://www.djpp.depkumham.go.id
f. ambulans, untuk klinik yang menyelenggarakan rawat inap; dan
g. sarana lainnya sesuai kebutuhan.
(2) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dalam keadaan
terpelihara dan berfungsi dengan baik.
Bagian Kelima
Peralatan
Pasal 11
(1) Klinik harus dilengkapi dengan peralatan medis dan nonmedis yang
memadai sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan.
(2) Peralatan medis dan nonmedis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus memenuhi standar mutu, keamanan, dan keselamatan.
(3) Selain memenuhi standar sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
peralatan medis harus memiliki izin edar sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 12
Peralatan medis yang digunakan di klinik harus diuji dan dikalibrasi secara
berkala oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi
penguji dan pengkalibrasi yang berwenang.
Pasal 13
Peralatan medis yang menggunakan radiasi pengion harus mendapatkan
izin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 14
Penggunaan peralatan medis untuk kepentingan penegakan diagnosis,
terapi dan rehabilitasi harus berdasarkan indikasi medis.
Bagian Keenam
Ketenagaan
Pasal 15
(1) Pimpinan Klinik Pratama adalah seorang dokter atau dokter gigi.
(2) Pimpinan Klinik Utama adalah dokter spesialis atau dokter gigi
spesialis yang memiliki kompetensi sesuai dengan jenis kliniknya.
(3) Pimpinan klinik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
merupakan penanggung jawab klinik dan merangkap sebagai
pelaksana pelayanan.
http://www.djpp.depkumham.go.id
Pasal 16
Ketenagaan klinik terdiri atas tenaga medis, tenaga kesehatan lain dan
tenaga non kesehatan.
Pasal 17
(1) Tenaga medis pada Klinik Pratama minimal terdiri dari 2 (dua) orang
dokter dan/atau dokter gigi.
(2) Tenaga medis pada Klinik Utama minimal terdiri dari 1 (satu) orang
dokter spesialis dari masing-masing spesialisasi sesuai jenis pelayanan
yang diberikan.
(3) Klinik Utama dapat mempekerjakan dokter dan/atau dokter gigi
sebagai tenaga pelaksana pelayanan medis.
(4) Dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus
memiliki kompetensi setelah mengikuti pendidikan atau pelatihan
sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan oleh klinik.
(5) Jenis, kualifikasi, dan jumlah tenaga kesehatan lain serta tenaga non
kesehatan disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis pelayanan yang
diberikan oleh klinik.
Pasal 18
(1) Setiap tenaga medis yang berpraktik di klinik harus mempunyai Surat
Tanda Registrasi dan Surat Izin Praktik (SIP) sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(2) Setiap tenaga kesehatan lain yang bekerja di klinik harus mempunyai
Surat Izin sebagai tanda registrasi/Surat Tanda Registrasi dan Surat
Izin Kerja (SIK) atau Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 19
Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di klinik harus bekerja sesuai dengan
standar profesi, standar prosedur operasional, standar pelayanan, etika
profesi, menghormati hak pasien, mengutamakan kepentingan dan
keselamatan pasien.
Pasal 20
Klinik dilarang mempekerjakan tenaga kesehatan warga negara asing.
http://www.djpp.depkumham.go.id
BAB IV
PERIZINAN
Pasal 21
(1) Untuk mendirikan dan menyelenggarakan klinik harus mendapat izin
dari pemerintah daerah kabupaten/kota setelah mendapatkan
rekomendasi dari dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.
(2) Dinas kesehatan kabupaten/kota mengeluarkan rekomendasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah klinik memenuhi
ketentuan persyaratan klinik dalam Peraturan ini.
(3) Permohonan izin klinik diajukan dengan melampirkan:
a. surat rekomendasi dari dinas kesehatan setempat;
b. salinan/fotokopi pendirian badan usaha kecuali untuk kepemilikan
perorangan;
c. identitas lengkap pemohon;
d. surat keterangan persetujuan lokasi dari pemerintah daerah
setempat;
e. bukti hak kepemilikan atau penggunaan tanah atau izin
penggunaan bangunan untuk penyelenggaraan kegiatan bagi milik
pribadi atau surat kontrak minimal selama 5 (lima) tahun bagi yang
menyewa bangunan untuk penyelenggaraan kegiatan;
f. dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya
Pemantauan Lingkungan (UPL);
g. profil klinik yang akan didirikan meliputi struktur organisasi
kepengurusan, tenaga kesehatan, sarana dan prasarana, dan
peralatan serta pelayanan yang diberikan; dan
h. persyaratan administrasi lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Izin klinik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk
jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang dengan
mengajukan permohonan perpanjangan 6 (enam) bulan sebelum habis
masa berlaku izinnya.
(4) Pemerintah daerah kabupaten/kota dalam waktu 3 (tiga) bulan sejak
permohonan diterima harus menetapkan menerima atau menolak
permohonan izin atau permohonan perpanjangan izin.
(5) Permohonan yang tidak memenuhi syarat ditolak oleh pemerintah
daerah kabupaten/kota dengan memberikan alasan penolakannya
secara tertulis.
http://www.djpp.depkumham.go.id
BAB V
PENYELENGGARAAN
Pasal 22
(1) Klinik yang menyelenggarakan pelayanan rawat inap harus
menyediakan:
a. ruang rawat inap yang memenuhi persyaratan;
b. tempat tidur pasien minimal 5 (lima) dan maksimal 10 (sepuluh);
c. tenaga medis dan keperawatan yang sesuai jumlah dan
kualifikasinya;
d. tenaga gizi, tenaga analis kesehatan, tenaga kefarmasian dan
tenaga kesehatan dan/atau tenaga non kesehatan lain sesuai
kebutuhan;
e. dapur gizi;
f. pelayanan laboratorium Klinik Pratama.
(2) Pelayanan rawat inap hanya dapat dilakukan maksimal selama 5 (lima)
hari.
Pasal 23
(1) Klinik dapat menyelenggarakan pelayanan laboratorium klinik.
(2) Perizinan laboratorium klinik terintegrasi dengan perizinan kliniknya.
(3) Apabila laboratorium klinik memiliki sarana, prasarana, ketenagaan
dan kemampuan pelayanan melebihi kriteria dan persyaratan klinik
pratama maka laboratorium klinik sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(4) Persyaratan laboratorium klinik meliputi ketenagaan, bangunan,
peralatan, dan kemampuan pemeriksaan dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 24
(1) Klinik menyelenggarakan pengelolaan dan pelayanan kefarmasian
melalui ruang farmasi yang dilaksanakan oleh apoteker yang memiliki
kompetensi dan kewenangan untuk itu.
(2) Apabila klinik berada di daerah yang tidak terdapat apoteker
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelayanan kefarmasian dapat
dilaksanakan oleh tenaga teknis kefarmasian sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Ruang farmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
melayani resep dari tenaga medis yang bekerja di klinik yang
bersangkutan.
http://www.djpp.depkumham.go.id
Pasal 25
Dalam memberikan pelayanan, klinik berkewajiban:
a. memberikan pelayanan yang aman, bermutu dengan mengutamakan
kepentingan terbaik pasien sesuai dengan standar profesi, standar
pelayanan dan standar prosedur operasional;
b. memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan
kemampuan pelayanannya tanpa meminta uang muka terlebih dahulu
atau mendahulukan kepentingan finansial;
c. memperoleh persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan (informed
consent);
d. menyelenggarakan rekam medis;
e. melaksanakan sistem rujukan;
f. menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi
dan etika serta peraturan perundang-undangan;
g. menghormati hak-hak pasien;
h. melaksanakan kendali mutu dan kendali biaya berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
i. memiliki peraturan internal dan standar prosedur operasional;
j. melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara
regional maupun nasional.
Pasal 26
Penyelenggara klinik wajib:
a. memasang papan nama klinik;
b. membuat daftar tenaga medis dan tenaga kesehatan lain yang bekerja di
klinik beserta nomor Surat Tanda Registrasi dan Surat Izin Praktik (SIP)
bagi tenaga medis dan surat izin sebagai tanda registrasi atau Surat
Tanda Registrasi dan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) atau Surat Izin
Kerja (SIK) bagi tenaga kesehatan lain;
c. melaksanakan pencatatan untuk penyakit-penyakit tertentu dan
melaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota dalam rangka
pelaksanaan program pemerintah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 27
(1) Besarnya tarif pelayanan klinik berpedoman pada komponen jasa
pelayanan dan jasa sarana.
(2) Komponen jasa pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. jasa konsultasi;
http://www.djpp.depkumham.go.id
b. jasa tindakan;
c. jasa penunjang medik;
d. biaya pelayanan kefarmasian;
e. ruang perawatan (untuk rawat inap);
f. administrasi; atau
g. komponen lainnya yang menunjang pelayanan.
(4) Tarif atas jasa sarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
biaya penggunaan sarana dan fasilitas klinik, akomodasi, sediaan
farmasi, bahan dan/atau alat kesehatan habis pakai yang digunakan
dalam rangka pelayanan.
(5) Besarnya biaya masing-masing komponen ditentukan dalam bentuk
nominal, bukan dalam bentuk persen dari biaya lainnya.
BAB VI
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 28
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembinaan dan
pengawasan.
(2) Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), pemerintah dan pemerintah daerah dapat
mengikutsertakan organisasi profesi.
(3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan, keselamatan
pasien dan melindungi masyarakat terhadap segala risiko yang dapat
menimbulkan bahaya bagi kesehatan atau merugikan masyarakat.
(4) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) berupa pemberian bimbingan, supervisi, konsultasi, pendidikan
dan pelatihan dan kegiatan pemberdayaan lain.
Pasal 29
(1) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan, pemerintah dan pemerintah
daerah sesuai dengan kewenangan masing-masing dapat mengambil
tindakan administratif.
(2) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
melalui:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis; atau
c. pencabutan Izin.
Pasal 30
(1) Menteri atau kepala dinas kesehatan provinsi/kabupaten/kota dalam
melaksanakan tugasnya dapat mengangkat tenaga pengawas dengan
http://www.djpp.depkumham.go.id
tugas pokok untuk melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan
klinik.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 31
Pada saat Peraturan ini mulai berlaku, maka semua fasilitas pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan medis dasar atau
spesialistik berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
920/Menkes/Per/XII/1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di
Bidang Medik, harus disesuaikan dengan Peraturan ini dalam jangka
waktu selambat-lambatnya 2 (dua) tahun.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 32
Pada saat Peraturan ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
920/Menkes/Per/XII/1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di
Bidang Medik dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 33
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal di tetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 4 Januari 2011
MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA,
ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 10 Januari 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
PATRIALIS AKBAR
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 16
http://www.djpp.depkumham.go.id

Peraturan Pembuatan Klinik

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2011 in PERUNDANG-UNDANGAN

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: